pernikahan adat bugis

laporan dari makassar

Pernikahan merupakan suatu kebahagiaan tersendiri buat kedua keluarga pasangan mempelai dan juga kadang menjadi suatu kesedihan untuk melepaskan sang anak, ponakan untuk membentuk keluarga baru.

Acara pernikahan pasangan Safruddin Azis dan Agustina sendiri berlangsung Sabtu (25/10) di Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Akad nikah menggunakan perpaduan adat bugis pada umumnya walau ngak segenap adat tersebut di pakai namun sebagai besar seperti itu dan juga adat setempat.

 

Dari pihak mempelai laki-laki, merupakan Keluarga Wotu, Ottona Luwu, yah masih Bugis juga, Bugis Luwu sedang dari pihak wanita juga menggunakan adat bugis karena orang tuanya juga ada darah bugis.

Seperti biasa pernikahan adat bugis disertai Pasompa dibawa oleh seorang anak yang dipayungi. Isi pasompa biasanya berisi mahar, termasuk beras, gula merah dll dilambangkan sebagai kebutuhan di saat berumah tangga.

Ada juga erang-erang yang terbuat dari bambu yang berisi tebu, kelapa, dll itu, beserta mahar lainnya, yang disediakan dalam kotak atau bingkisan lainnya.

Beda tempat biasanya beda tradisi walaupun sama-sama adat bugis, namun kadang kala ada juga yang menyederhanakan tradisinya. Kalau keluarga keturunan Raja bisa jadi banyak prosesi-prosesi adat yang dilalui.

Nah prosesi nikah ini juga dilakukan penyerahan kepada adat, dari pihak laki-laki To Wotu, kepada pihak adat setempat.

Biasanya untuk mempelai sebelum hari H pernikahan ada istilah malam mappacci artinya memberi pacar, biasanya malam sebelum hari H akad nikah. Namun pada prosesi ini, mappaccinya diadakan sebelum proses akad nikah pada hari yang sama, dilakukan oleh pihak mempelai laki-laki dan juga wanitanya. Setelah itu baru akad nikah.

Akad sendiri dipimpin oleh penghulu, alhamdulillah dengan sekali ucapan Udin mantap dengan tangan yang posisi yang tepat. Setelah itu menuju kamar mempelai wanita yang biasanya dikatakan mendobrak kamar. Nah tradisi ini merayu didalam kamar untuk membuka kamar, biasanya dengan amplop dan siraman benda-benda yg agak keras seperti permen dan uang logam.

Namun waktu itu, kamar kebetulan terbuka lebar, jadi pihak mempelai laki-laki dengan mudah masuk kamar menjemput sang mempelai wanitanya

Setelah itu menjemput sang mempelai wanita, disandingkanlah mereka berdua di Lamming. Dari pihak keluarga laki-laki (saudara ibu saya yang paling muda) memberikan cincin kawin yang dipasangkan di jari masing-masing mempelai. Nah di sini, tante saya yang lain terharu sampai menangis, sampai sungkeman kepada orang tua juga, terbawa haru. Mau tidak mau saya juga ikut terharu. Melepaskan seorang anak yang paling tua di antara sodara-sodara lain. Saya yang sedang pegang camdig mengabadikan setiap moment jadi ikut terharu apalagi saat sungkem sama Mama, saya ngak kuasa menahan haru kalau Mama saya sampai menitikan air matanya. Maklum Mama anak kedua yang memiliki anak tertua, seperti melepaskan seorang anak ke keluarga yang baru.

Selanjutnya dilanjutkan istirahat dan makan, beberapa juga ikut foto bareng kedua mempelai.

Pada malam harinya, diadakan resepsi pernikahan. Resepsi pernikahannya sendiri kedua mempelai menggunakan jas tutup dan kebaya modern yang berjilbab panjang. Namun ternyata pakaian tersebut hanya untuk menyambut tamu yang sedang mencicipi hidangan resepsi, dan mengabadikan foto mereka berdua.

Pada tengah acara digantikan pakaiannya dengan baju ”seloyor” istilah di orang-orang bugis seperti itu mengatakannya  , yah baju modern gitu deh saya ngak tau persis istilah umumnya, tapi saudara saya tetap menggunakan jas tutup modern juga.

Ketika pakaian kedua mempelai diganti, kedua pasang orang tua diundang naik ke pelaminan untuk sama-sama menerima restu dari para undangan yang hadir waktu itu.

Selama proses resepsi ini dihibur oleh Musik dangdut dan lain-lain. Namun jenisnya seperti cak doleng-doleng yang ada di tanah bugis. Saya sempat tanyakan ke keluarga mempelai wanita (tantenya red) acara resepsinya sampai jam 9 atau bahkan 10 *pantesan aja ortuku ngantuk di atas kelamaan nunggunya  * yah namanya juga tradisi orang di daerah tinombo. ”Setelah itu acara muda-mudi” lanjut ibu itu. Jadi acara muda-mudi itu maksudnya yah itu sejenis musik dengan wanita yang berpakaian gitu deh. Yah namanya budaya sih, semoga ndak sampai porno lah, saya sendiri tidak menyaksikan karena keburu pulang soalnya besok sudah balik lagi, maklum perjalanan cukup jauh butuh istirahat cukup.

Foto keluarga saya dengan kedua mempelai

aRuL – Kedua Mempelai (Tina-Udin) – Kedua Ortuku

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s